Rabu, 31 Desember 2014


BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Sebagai Muslim yang selalu menuju ke jalan takwa. Tidaklah mungkin dapat dilakukan tanpa adanya pedoman yang di pegangnya. Dalam Islam yang menjadi pegangan, pedoman dalam kehidupan sehingga mencapai suatu kehidupan yang mulia baik dunia maupun Akhirat.
Dalam Islam Al-Quran merupakan Sumber utama yang di wahyukan Allah kepada Nabi Muhammad SAW.  Sebagai pedoman hidup dan tuntunan hidup. Tetapi dalam memahaminya tidak lah bisa hanya dengan membaca atau melikatnya saja. Salah satu yang menjadi kemudahan bagi kita sekarang adalah banyaknya kitab-kitab tafsir yang sudah dibuat oleh para pendahulu kita. Sehingga kita dapat meujuk dari kitab-kitab tersebut tentang isi dari kandungan Al-Qur’an itu sendiri.
Namun, dalam penafsiran yang dilakukan setiap penafsir tentu akan berbeda satu samalainnya. Karena keterbatasan serta tujuan dari penafsir itu sendiri. Sehingga untuk mengetahui tentang bagai mana tafsir tersebut maka di butuhkan studi untuk mempelajari hal-hal berkenaan teafsir tersebut.

B.   Tujuan Penulisan
1.      Siapakah penulis Tafsir al-wadhi@h?
2.      Seperti apakah Tafsir al-wadhi@h?
3.      Bagaimanakah Tafsir al-wadhi@h ?
BAB II
PEMBAHASAN
A.  Profil Muhammad Mahmud Hijazi
1.    Biografi
a.    Perjalanan Hidup
Mahmud Hijazi dilahirkan pada tahun 1914 di wilayah bagian timur mesir. Pada masa mudanya ia menempuh study di lembaga Zaqaziq, ia adalah seorang murid yang teladan sehingga disegani oleh teman-temannya. Setelah menyelesaikan studinya di Zaqaziq ia melanjutkan studinya ke Kairo di Fakultas Bahasa Arab dan mendapat gelar keserjanaan dengan cepat karena ia termasuk mahasiswa yang pintar. Kemudian ia ditetapkan menjadi dosen di lembaga Zaqaziq yang merupakan almamaternya.[1]
Beberapa tahun kemudian dia diangkat menjadi guru besar dan banyak membantu lembaga tersebut dengan ilmunya. Di sana ia selalu mengadakan diskusi intensif dengan para mahasiswa yang berasal dari daerahnya. Mahmud Hijazi berhasil menyelesaikan gelar doktornya di lembaga Zaqaziq dengan disertasi yang berjudul “al-Wihdah al-Maudhuiyyah li al-Quran al-Karim” (kesatuan tema dalam al-Quran) karena ia memfokuskan studinya dibidang tafsir.[2]
B.    Tafsīr al-wadhi@h
1.    Identitas Tafsir
a.    Nama Kitab
Dalam pendahuluan buku tafsir ini beliau menuliskan kenapa beliau berkeinginan untuk menulis buku tafsir yang diberi judul dengan “Al-Tafsi@r al-Wadhi@h”, beliau mengatakan karena di dalam al-Qur’an terdapat banyak makna-makana dan rahasia-rahasia al-Qur’an yang belum terkuak dan sudah dijelaskan tetapi secara global saja.
Pada saat sekarang ini telah banyak kegiatan belajar-mengajar, maka dari itu muncullah pembelajaran yang berpokok pada dua permasalahan yaitu: Pertama, banyaknya penelitian dari kalangan peneliti tentang hubungan manusia dengan lainnya, sehingga terjadilah perbedaan-perbedaan pemahaman tehadap hukum atau peraturan-peraturan yang telah dibuat, begitu pula masih terlihat dan terdengar mereka terus memperbaharui bahkan mengganti peraturan-peraturan yang ada, setelah tahun berganti dengan tahun berikutnya mereka mengulangi pekerjaan sebelumnya dengan mengganti dan memperbaharuinya. Kedua adalah bahwa banyak dari orang-orang kembali berwajah kepada al-Qur’an, seakan-akan mereka telah bosan terhadap realita yang ada, yang mana mereka berkesimpulan bahwa hukum yang dibuat belum berhasil dalam penanggulangan permasalahan-permasalahan kriminal dan belum bisa memberikan hak-hak mereka, tetapi justru sebaliknya membuat kehidupan mereka sangat buruk dan menprihatinkan, lalu mereka berwajah kembali kepada al-Qur’an dengan berkeyakinan al-Qur’an adalah sebagai jalan keluar atas segala permasalahan yang ada, yang bisa membawa mereka ke kehidupan yang bahagia dan lebih baik.[3]
Maka dari itu, Dr. Muhammad Mahmud Hijazi berhasrat untuk membantu mereka dengan menulis kitab “Al-Tafsi@r al-Wadhi@h” yang bertujuan bisa menjadi alat dalam mewujudkan kehidupan yang berlandaskan terhadap al-Qur’an.
b.    Kitab Rujukan
Al-Tafsir al-Wadhih karya Dr. Muhammad Mahmud Hijazi juga tidak terlepas dari tafsir-tafsir terdahulu seperti yang dikatakan beliau “tafsir ini tidak terlepas jauh dari tafsir sebelumya, seperti al-Fajr, asy-Syihab, al-Ulusi, ath-Thabari dan al-Qurthubi”.
c.       Sumber penafsiran
Secara definitif yang dimaksud dengan sumber tafsir adalah rujukan yang digunakan mufasir dalam menafsirkan ayat-ayat al-Quran. Secara rinci sumber penafsiran tafsir al-Wadhih berasal dari dua sumber. Pertama, sumber Ma’tsur (naql), kedua, sumber Ra’yu (aql). Dari kedua sumber tersebut diuraikan lagi menjadi empat sumber secara parsial yaitu:
1).  Al-Quran
Al-Quran merupakan sumber utama yang digunakan Mahmud Hijazi dalam tafsirnya, cotohnya dalam menafsirkan surat al-Baqarah ayat 34:
øŒÎ)ur$oYù=è%Ïps3Í´¯»n=uKù=Ï9(#r߉àfó™$#tPyŠKy(#ÿr߉yf|¡sùHwÎ)}§ŠÎ=öÎ)4’n1r&uŽy9õ3tFó™$#urtb%x.urz`ÏBšúï͍Ïÿ»s3ø9$#ÇÌÍÈ
Artinya:“Dan (Ingatlah) ketika kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir”.
Sujud di sini berarti menghormati dan memuliakan Adam, bukanlah berarti sujud memperhambakan diri, Karena sujud memperhambakan diri itu hanyalah semata-mata kepada Allah.
Mahmud Hijazi menafsirkan ayat ini dengan ayat 50 pada surat al-Kahfi, lafazh iblis dalam ayat ini diartikan sebagai salah satu golongan jin, dapat juga disebut bapaknya jin.
øŒÎ)ur$uZù=è%Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9(#r߉ßÚó™$#tPyŠKy(#ÿr߉yf|¡sùHwÎ)}§ŠÎ=öÎ)tb%x.z`ÏBÇd`Éfø9$#t,|¡xÿsùô`tã̍øBr&ÿ¾ÏmÎnu‘3¼çmtRrä‹Ï‚­GtFsùr&ÿ¼çmtF­ƒÍh‘èŒuruä!$uŠÏ9÷rr&`ÏB’ÎTrߊöNèduröNä3s9Br߉tã4}§ø©ÎtûüÏJÎ=»©à=Ï9Zwy‰tÇÎÉÈ
Artinya: “Dan (Ingatlah) ketika kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam, Maka sujudlah mereka kecuali iblis. dia adalah dari golongan jin, Maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim.
Sujud di sini berarti menghormati dan memuliakan Adam, bukanlah berarti sujud memperhambakan diri, Karena sujud memperhambakan diri itu hanyalah semata-mata kepada Allah.
Contoh lain seperti dalam menjelaskan sifat-sifat surga yang dijanjikan Allah pada surat ar-Ra'du ayat 35 beliau menjelaskan dengan surat Muhammad ayat 15.
Kalau kita melihat lebih dalam dan kritis tentang metode yang digunakannya, beliau banyak menggunakan ilmu-ilmu yang ada pada sekarang, seperti psikologi, sosiologi, antropologi, historis, ekonomi budaya dan segala yang dapat membantu beliau dalam penafsirannya yang bisa diterima akal. Sebagimana beliau menyatakan bahwa surga yang dijanjikan Allah itu tidaklah seperti yang termaktub pada teks al-Qur'an, karena seandainya surga seperti itu maka kitapun pernah merasakan keenakannya didunia ini walaupun diakhirat lebih enak. Jika ditinjau dengan pendekatan psikologi , budaya dan historis lahirnya ayat itu, maka pendapat beliau bisa diterima, beliau menyatakan ayat ini lahir atau turun di Arab, yang mana di dataran tanah Arab itu sangatlah gersang dan jarang sekali pohon-pohon yang tumbuh dan tidak adanya sungai yang mengalir, maka dari itu Allah menggambarkan surga itu dengan sebuah perkebunan yang rindang terdapat buah-buahan yang enak ditambah sungai-sungai yang mengalir didalamnya. Hal ini supaya teks al-Qur'an itu pas dengan bangsa itu, tetapi kalau di Indonesia itu sudahlah sangat biasa dengan perkebunan dan sungai. Oleh karena itu beliau berpendapat surga yang dijanjikan Allah tidaklah seperti yang digambarkan dalam teks tetapi surga yang dijanjikan Allah lebih dari itu.
2). Al-Hadits
                  Sumber ke dua yang digunakan Mahmud Hijazi adalah didasarkan pada hadits sebagaimana tugas seorang rasul adalah sebagai penjelas dari risalah yang dibawanya. Contoh pada surat al-Baqarah ayat 8 yang bertema tentang orang-orang munafik dan sifat-sifatnya, Mahmud Hijazi menafsirkannya dengan mengambil hadits-hadits yang berbicara tentang sifat-sifat orang munafik.
Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa di antara manusia ada yang beriman kepada Allah dan hari akhir secara lisan saja, padahal hatinya dipenuhi dengan rasa kufur dan aniaya, oleh karena itu Allah menolak segala pengakuan mereka sebab mereka tidak beriman meskipun mereka mengaku beriman. Tidak diragukan lagi bahwa mereka menampakan keimanan dan menyembunyikan kekufuran dalam bentuk tipu daya, dan mereka termasuk orang-orang yang munafik.
            3). Riwayat Sahabat
Selain al-Quran dan hadits yang dijadikan sumber penafsiran, Mahmud Hijazi pun menggunakan riwayat para sahabat untuk menafsirkan ayat-ayat al-Quran. Hal ini disebabkan mereka (sahabat) adalah orang-orang yang hatinya terbebas dari nifak, luas pengetahuannya, adil dalam sifat dan sikap serta pemahamannya terhadap ajaran yang dibawa nabi sangat mendekati kebenaran karena mereka hidup semasa dengan nabi. Hal ini senada dengan ucapan nabi bahwa orang-orang yang paling baik pemahamannya terhadap al-Quran adalah orang-orang yang sezaman dengan nabi.
            4). Ijtihad
Yang terakhir cara yang ditempuh oleh Mahmud Hijazi untuk menafsirkan al-Quran selain dengan ke tiga sumber di atas adalah dengan menggunakan ijtihad. Tentunya dalam hal ini Mahmud Hijazi menggunakan akal yang sehat dengan kaidah-kaidah yang telah ditetapkan untuk menafsirkan al-Quran, tidak mengikuti hawa nafsu menafsirkan al-Quran sesuai dengan kebutuhan dan kehendaknya.
d.    Sistematika Penulisan
Kitab tafsir ini terdiri dari 10 juz, setiap mengawali penafsirannya Mahmud Hijazi menulis nama surat dalam al-Quran, menerangkan Makiyah dan Madaniyah serta menerangkan secara global kandungan surat. Contoh surat al-Anfal termasuk dalam kelompok surat Madaniyah, surat tersebut menceritakan tentang harta rampasan perang, kemudian mengelompokan ayat secara berurutan yang dipandang berhubungan satu sama lain dalam tema-tema kecil. secara deskriptif dan langkah-langkah yang digunakannya adalah sebagai berikut:
a.             Menjelaskan arti dari nama surat dan konten dan pokok-pokok apa saja yang ada didalamnya. Contoh: Surat al-Ikhlash dinamakan Surat al-Ikhlash karena termasuk surat tauhid dan pensucian nama Allah Ta’ala. Ia merupakan prinsip pertama dan pilar utama Islam. Oleh karena itu pahala membaca surat ini disejajarkan dengan sepertiga Al-Qur’an. Karena ada tiga prinsip umum: tauhid, penerapan hudud dan perbuatan hamba, serta disebutkan dahsyatnya hari kiamat. Ini tidaklah mengherankan bagi orang yang diberi karunia untuk membacanya dengan tadabbur dan pemahaman, sampai pahalanya disamakan dengan orang membaca sepertiga Al-Qur’an.[4]
b.            Penjelasan kosa kata (Syarhu al-Mufradat) yang terdapat dalam ayat yang dirasa sulit menurut ukurannya. Dengan demikian tidak dijelaskan seluruh kosakata yang ada tetapi sebagiannya saja yang dianggap sulit. Contoh kata Ahad pada Surat al-Ikhlash diartikan sebagai: satu dalam DzatNya, SifatNya dan Af’alNya.
c.             Penjelasan (al-Idhah), pada langkah ini, beliau memberikan penjelasan yang luas dengan dibarengi asbab an-Nuzul jika ada. Terkadang beliau menjelaskan tafsir ayat dengan ayat lain dan bahkan penjelasan para ulama terdahulu yang dianggapnya baik atau shahih. Contoh pada surat al-Baqarah ayat 26-27 setelah memberikan penjelasan yang panjang lebar beliau menyebutkan sebab turunnya ayat tersebut yaitu dengan menyebut riwayat, dengan kata Ruwiya: yaitu ayat tersebut turun karena orang kafir menertawakan pemisalan dalam al-Qur’an yang berupa laba-laba.[5] Beliau juga menjelaskan ayat satu dengan ayat lain seperti surat al-Ra’du ayat 35, beliau menjelaskan dengan surat Muhammad ayat 15.
d.            Pada langkah terakhir biasanya beliau memberikan penjelasan pada surat yang dianggap penting atau yang bersangkutan dengan ilmu tafsir seperti apa macam surat ini Makkiyah atau madaniyyah. Contoh seperti surat al-Ikhlash di atas disebutkan bahwa syrat tersebut termasuk surat Makkiyah.

2.    Corak Penafsiran
Biasanya corak penafsiran selelu dikaitkan dengan tsaqofah mufasirnya, namun tidak mesti demikian karena banyak kitab-kitab tafsir yang coraknya tidak sesuai dengan tsaqofah mufasirnya. Jika melihar tsaqofah mufasirnya diketahui bahwa Mahmud Hijazi adalah seorang yang mahir dalam kaidah bahasa Arab, akan tetapi dalam menyusun tafsir ini beliau lebih cenderung dengan corak adabul ijtima’i.
3.    Metode Penafsiran
Metode tafsir al-Quran secara definitif adalah seperangkat kaidah atau aturan yang digunakan dalam menafsirkan al-Quran. Dalam disertasinya yang berjudul “al-Wihdah al-Maudhuiyyah” Mahmud Hijazi menjelaskan langkah-langkah yang dilakukan dalam menafsirkan ayat-ayat al-Quran yaitu:
a.         Mengelompokan ayat-ayat yang memiliki tema yang sama
b.        Menyusun ayat-ayat tersebut sesuai dengan sebab turunnya
c.         Membahas ayat tersebut pada surahnya serta menjelaskan kaitannya dengan ayat sebelum dan sesudahnya.
d.        Membahas rangkaian tema yang sama tersebut yang terdapat pada surat lain sehingga sampai pada tujuan pembacanya.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa tafsir al-Wadhih cenderung menggunakan metode “maudhu’i” yaitu mengklasifikasikan ayat-ayat dalam satu surat dengan memberikan tema sentral, mencantumkan sebab nuzul dan melakukan munasabah ayat.

C.   Tafsir Surah An-nisa’ ayat 1-20
1.    Identitas Surah
a.       Nama                        : Surah An-nisa’
b.      Kelompok Surah      : Madaniyyah
c.       Jumlah ayat              : 176 ayat
2.    Teks ayat dan mufradat
يا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ واحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْها زَوْجَها وَبَثَّ مِنْهُما رِجالاً كَثِيراً وَنِساءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسائَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحامَ إِنَّ اللَّهَ كانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً (1)
المفردات :
النَّاسُ : هم الجنس البشرى ، وهو الحيوان الناطق المنتصب القامة الذي يطلق عليه الإنسان. وَبَثَّ : نشر. تَسائَلُونَ بِهِ : يسأل بعضكم بعضا بأن يقول :
سألتك باللّه أن تفعل كذا. وَالْأَرْحامَ : جمع رحم ، وهي القرابة من جهة الأب أو الأم. رَقِيباً : مشرفا ، والمراد : محافظا.
افتتح اللّه هذه السورة الكريمة بتذكير الناس بأنهم من أصل واحد كلهم لآدم وآدم من تراب ، وذكر الرحم والقرابة ليكون هذا كبراعة استهلال لما في السورة من أحكام
التفسير الواضح ، ج 1 ، ص : 332
المحافظة على أموال الضعاف وأحكام النكاح والإرث ، وكأن هذه الأحكام لازمة للناس من حيث كونهم ناسا ولذا بدأها بقوله : يا أيها الناس ، وإن تكن السورة مدنية.
المعنى :
يا أيها الناس خذوا لأنفسكم الوقاية ، واتقوا اللّه الذي رباكم بنعمه ، وتفضل عليكم بإحسانه ومننه ، فهو الذي خلقكم من جنس واحد وحقيقة واحدة هي آدم - عليه السلام - وإذا كنا جميعا أبناء لأب واحد ، فلا يصح أن نتعدى حدود اللّه خاصة حدود القربى والرحم الإنسانية.
وقيل : هذه النفس لم تبدأ بآدم بل بأوادم قبله ، فليس آدم أبا البشر جميعا ... واللّه أعلم بهذا كله ، والخطب يسير ، والقرآن أبهم النفس ولم يعرفها فهي تحتمل هذه المعاني وأكثر منها.
فإذا ثبت علميا أن آدم أبو البشر أو ليس آدم أبا البشر لم يتعارض ذلك مع القرآن كما تتعارض التوراة وغيرها.
على أن الرأى الأول هو الأحسن والذي يتلاءم مع كثير من الأحاديث الصحيحة ، والمعنى المراد أنه خلقكم من نفس واحدة أنشأها من تراب وخلق منها زوجها ، قيل :
من ضلع لآدم كما
في الحديث « إن المرأة خلقت من ضلع أعوج ، فإن ذهبت تقيمها كسرتها ، وإن تركتها وفيها عوج استمتعت بها » .
وعند بعض العلماء أن المراد أنه خلق من جنسها زوجها فهما من جنس واحد وطبيعة واحدة واستدل على ذلك بقوله - تعالى - : وَمِنْ آياتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْواجاً لِتَسْكُنُوا إِلَيْها [الروم 21] وقال في سورة أخرى : هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا من أنفسهم [الجمعة 2] فالمراد في الآيات من النفس واحد وهو الجنس ونشر وفرق من آدم وحواء نوعي البشر : الذكور والإناث ، فقد خلق آدم من تراب ، وخلقت حواء منه ، ومنها خلقت الذكور والإناث التي تفرع منهما الإنسان الذي سكن الأرض ، وهذا تفصيل لما أجمل في قوله - تعالى - : خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ واحِدَةٍ [سورة الزمر آية 6].
التفسير الواضح ، ج 1 ، ص : 333
و اتقوا اللّه الذي تساءلونه به فيقول الواحد منكم لأخيه : أسألك باللّه أن تفعل كذا ، والمعنى : أسألك بإيمانك به وتعظيمك له.
واتقوا الرحم ، أى : وصلوا الأرحام بالمودة والإحسان ولا تقطعوها ، وكرر الأمر بالتقوى للمبالغة والتأكيد ، وفي الأولى ذكر لفظ (الرب) الذي هو علم العطف والتربية في حالة الضعف والحاجة ، وفي الثانية لفظ (اللّه) إذ هو علم المهابة والجلالة ليكون أدعى للإجابة وقبول الأمر ، ثم ختم الآية بقوله : إِنَّ اللَّهَ كانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً مشيرا إلى أنه لا يشرع لنا إلا ما به حفظنا ومصلحتنا ، وهو الخبير بنا البصير بأحوالنا.
ما هي النفس والروح ؟ : مما لا شك فيه أن في الإنسان ناحية مادية وناحية مبهمة محجوبة بها العقل والحفظ والتذكر ، وهذه الأمور آثارها محسوسة بلا شك ، وليست من صفات الجسد ، فما منشئوها ؟ قال الأقدمون عنها : إنها النفس والروح ، وهل هي جسم نوراني علوي منفصل عن الجسم متصل به في حال الحياة ؟ أو هي حالة تعرض للجسم ما دام حيا وليست جسما ؟ ! رأيان.
اليتامى ومعاملتهم في أموالهم [سورة النساء (4) : آية 2]
وَآتُوا الْيَتامى أَمْوالَهُمْ وَلا تَتَبَدَّلُوا الْخَبِيثَ بِالطَّيِّبِ وَلا تَأْكُلُوا أَمْوالَهُمْ إِلى أَمْوالِكُمْ إِنَّهُ كانَ حُوباً كَبِيراً (2)
الالمفردات :
الْيَتامى : جمع يتيم : وهو من فقد أباه ، وخص الفقهاء اليتم بما دون البلوغ.
وَ لا تَتَبَدَّلُوا : تأخذوه بدله ، فالباء داخلة على المتروك. الْخَبِيثَ : الرديء ، مأخوذ من خبث الحديد ، والمراد منه : الحرام بِالطَّيِّبِ : الحسن ، والمراد :
الحلال. حُوباً : إثما وذنبا كبيرا.
التفسير الواضح ، ج 1 ، ص : 334
شروع في بيان نواحي التقوى وجهتها ، وأولها المحافظة على مال الضعاف من اليتامى والنساء والسفهاء ، حيث ذكرنا اللّه بالرحم والقربى.
المعنى :
يا أيها الأوصياء في مال اليتامى : أنفقوا عليه من ماله ، واجعلوا ماله خاصا به لا تأكلوا منه شيئا حتى تسلموه إليه بعد البلوغ كاملا غير منقوص ، ولا تتمتعوا بمال اليتيم في موضع يجب أن تتمتعوا فيه بمالكم فإنكم إن أخذتم من ماله وتركتم مالكم تكونوا قد استبدلتم الخبيث بدل الطيب ، والحرام بدل الحلال ، وهذا منهى عنه شرعا.
روى أنهم كانوا يضعون الشاة الهزيلة ويأخذون بدلها شاة سمينة ، فجاء النهى عن ذلك ، ولا تأكلوا أموالهم مضمومة إلى أموالكم ، ومن كان فقيرا فليأكل بالمعروف.
ومن كان غنيا فليكن عفيفا عن مال اليتيم ، إن أكل مال اليتيم بغير حق ذنب كبير وإثم عظيم ، فأقلعوا عنه أيها الناس ، واتقوا اللّه الذي خلقكم من نفس واحدة.
تعدد الزوجات والعدل معهن [سورة النساء (4) : الآيات 3 الى 4]


















DAFTAR PUSTAKA





[1] Abdurrahman Mahmud, Manhaj al-Mufasirin, Kairo, Dar al-Kutub 1979, hal. 377
[2] Ibid, hal. 377-378
[3]Muhammad Mahmud Hijazy, Al-Tafsir al-Wadhih Jilid 1 (Bairut : Darul-Jail, tt), hal. 5
[4] Muhammad Mahmud Hijazy, Al-Tafsir al-Wadhih Jilid 9 (Bairut : Darul-Jail, tt), hal. 129
[5] Muhammad Mahmud Hijazy, Al-Tafsir al-Wadhih Jilid 1 (Bairut : Darul-Jail, tt), hal. 17