BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Sebagai Muslim yang selalu menuju ke jalan
takwa. Tidaklah mungkin dapat dilakukan tanpa adanya pedoman yang di pegangnya.
Dalam Islam yang menjadi pegangan, pedoman dalam kehidupan sehingga mencapai
suatu kehidupan yang mulia baik dunia maupun Akhirat.
Dalam Islam Al-Quran merupakan Sumber utama
yang di wahyukan Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Sebagai pedoman hidup dan tuntunan hidup.
Tetapi dalam memahaminya tidak lah bisa hanya dengan membaca atau melikatnya
saja. Salah satu yang menjadi kemudahan bagi kita sekarang adalah banyaknya
kitab-kitab tafsir yang sudah dibuat oleh para pendahulu kita. Sehingga kita
dapat meujuk dari kitab-kitab tersebut tentang isi dari kandungan Al-Qur’an itu
sendiri.
Namun, dalam penafsiran yang dilakukan setiap
penafsir tentu akan berbeda satu samalainnya. Karena keterbatasan serta tujuan
dari penafsir itu sendiri. Sehingga untuk mengetahui tentang bagai mana tafsir
tersebut maka di butuhkan studi untuk mempelajari hal-hal berkenaan teafsir
tersebut.
B.
Tujuan
Penulisan
1.
Siapakah penulis Tafsir
al-wadhi@h?
2.
Seperti apakah Tafsir
al-wadhi@h?
3. Bagaimanakah
Tafsir al-wadhi@h ?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Profil Muhammad Mahmud Hijazi
1.
Biografi
a.
Perjalanan Hidup
Mahmud Hijazi dilahirkan pada tahun 1914 di
wilayah bagian timur mesir. Pada masa mudanya ia menempuh study di lembaga
Zaqaziq, ia adalah seorang murid yang teladan sehingga disegani oleh
teman-temannya. Setelah menyelesaikan studinya di Zaqaziq ia melanjutkan
studinya ke Kairo di Fakultas Bahasa Arab dan mendapat gelar keserjanaan dengan
cepat karena ia termasuk mahasiswa yang pintar. Kemudian ia ditetapkan menjadi
dosen di lembaga Zaqaziq yang merupakan almamaternya.[1]
Beberapa tahun kemudian dia diangkat
menjadi guru besar dan banyak membantu lembaga tersebut dengan ilmunya. Di sana
ia selalu mengadakan diskusi intensif dengan para mahasiswa yang berasal dari
daerahnya. Mahmud Hijazi berhasil menyelesaikan gelar doktornya di lembaga
Zaqaziq dengan disertasi yang berjudul “al-Wihdah al-Maudhuiyyah li al-Quran
al-Karim” (kesatuan tema dalam al-Quran) karena ia memfokuskan studinya
dibidang tafsir.[2]
B.
Tafsīr
al-wadhi@h
1.
Identitas Tafsir
a.
Nama Kitab
Dalam pendahuluan buku tafsir ini
beliau menuliskan kenapa beliau berkeinginan untuk menulis buku tafsir yang
diberi judul dengan “Al-Tafsi@r al-Wadhi@h”, beliau mengatakan karena di
dalam al-Qur’an terdapat banyak makna-makana dan rahasia-rahasia al-Qur’an yang
belum terkuak dan sudah dijelaskan tetapi secara global saja.
Pada saat sekarang ini telah
banyak kegiatan belajar-mengajar, maka dari itu muncullah pembelajaran yang
berpokok pada dua permasalahan yaitu: Pertama, banyaknya penelitian dari
kalangan peneliti tentang hubungan manusia dengan lainnya, sehingga terjadilah
perbedaan-perbedaan pemahaman tehadap hukum atau peraturan-peraturan yang telah
dibuat, begitu pula masih terlihat dan terdengar mereka terus memperbaharui
bahkan mengganti peraturan-peraturan yang ada, setelah tahun berganti dengan
tahun berikutnya mereka mengulangi pekerjaan sebelumnya dengan mengganti dan
memperbaharuinya. Kedua adalah bahwa banyak dari orang-orang kembali
berwajah kepada al-Qur’an, seakan-akan mereka telah bosan terhadap realita yang
ada, yang mana mereka berkesimpulan bahwa hukum yang dibuat belum berhasil
dalam penanggulangan permasalahan-permasalahan kriminal dan belum bisa
memberikan hak-hak mereka, tetapi justru sebaliknya membuat kehidupan mereka
sangat buruk dan menprihatinkan, lalu mereka berwajah kembali kepada al-Qur’an
dengan berkeyakinan al-Qur’an adalah sebagai jalan keluar atas segala
permasalahan yang ada, yang bisa membawa mereka ke kehidupan yang bahagia dan
lebih baik.[3]
Maka dari itu, Dr. Muhammad
Mahmud Hijazi berhasrat untuk membantu mereka dengan menulis kitab “Al-Tafsi@r
al-Wadhi@h” yang bertujuan bisa menjadi alat dalam mewujudkan kehidupan
yang berlandaskan terhadap al-Qur’an.
b.
Kitab Rujukan
Al-Tafsir al-Wadhih karya Dr.
Muhammad Mahmud Hijazi juga tidak terlepas dari tafsir-tafsir terdahulu seperti
yang dikatakan beliau “tafsir ini tidak terlepas jauh dari tafsir sebelumya,
seperti al-Fajr, asy-Syihab, al-Ulusi, ath-Thabari dan al-Qurthubi”.
c.
Sumber penafsiran
Secara definitif yang
dimaksud dengan sumber tafsir adalah rujukan yang digunakan mufasir dalam
menafsirkan ayat-ayat al-Quran. Secara rinci sumber penafsiran tafsir al-Wadhih
berasal dari dua sumber. Pertama, sumber Ma’tsur (naql), kedua, sumber Ra’yu
(aql). Dari kedua sumber tersebut diuraikan lagi menjadi empat sumber secara
parsial yaitu:
1). Al-Quran
Al-Quran merupakan
sumber utama yang digunakan Mahmud Hijazi dalam tafsirnya, cotohnya dalam
menafsirkan surat al-Baqarah ayat 34:
øŒÎ)ur$oYù=è%Ïps3Í´¯»n=uKù=Ï9(#r߉àfó™$#tPyŠKy(#ÿr߉yf|¡sùHwÎ)}§ŠÎ=öÎ)4’n1r&uŽy9õ3tFó™$#urtb%x.urz`ÏBšúïÍÏÿ»s3ø9$#ÇÌÍÈ
Artinya:“Dan
(Ingatlah) ketika kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu
kepada Adam," Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur
dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir”.
Sujud di sini berarti menghormati dan memuliakan Adam, bukanlah berarti
sujud memperhambakan diri, Karena sujud memperhambakan diri itu hanyalah
semata-mata kepada Allah.
Mahmud Hijazi
menafsirkan ayat ini dengan ayat 50 pada surat al-Kahfi, lafazh iblis dalam
ayat ini diartikan sebagai salah satu golongan jin, dapat juga disebut bapaknya
jin.
øŒÎ)ur$uZù=è%Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9(#r߉ßÚó™$#tPyŠKy(#ÿr߉yf|¡sùHwÎ)}§ŠÎ=öÎ)tb%x.z`ÏBÇd`Éfø9$#t,|¡xÿsùô`tãÌøBr&ÿ¾ÏmÎnu‘3¼çmtRrä‹Ï‚GtFsùr&ÿ¼çmtFƒÍh‘èŒuruä!$uŠÏ9÷rr&`ÏB’ÎTrߊöNèduröNä3s9Br߉tã4}§ø©ÎtûüÏJÎ=»©à=Ï9Zwy‰tÇÎÉÈ
Artinya: “Dan
(Ingatlah) ketika kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu
kepada Adam, Maka sujudlah mereka kecuali iblis. dia adalah dari golongan jin,
Maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. patutkah kamu mengambil dia dan
turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah
musuhmu? amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi
orang-orang yang zalim.
Sujud di sini berarti menghormati dan memuliakan Adam, bukanlah berarti
sujud memperhambakan diri, Karena sujud memperhambakan diri itu hanyalah
semata-mata kepada Allah.
Contoh lain seperti
dalam menjelaskan sifat-sifat surga yang dijanjikan Allah pada surat ar-Ra'du
ayat 35 beliau menjelaskan dengan surat Muhammad ayat 15.
Kalau kita melihat
lebih dalam dan kritis tentang metode yang digunakannya, beliau banyak
menggunakan ilmu-ilmu yang ada pada sekarang, seperti psikologi, sosiologi,
antropologi, historis, ekonomi budaya dan segala yang dapat membantu beliau
dalam penafsirannya yang bisa diterima akal. Sebagimana beliau menyatakan bahwa
surga yang dijanjikan Allah itu tidaklah seperti yang termaktub pada teks
al-Qur'an, karena seandainya surga seperti itu maka kitapun pernah merasakan
keenakannya didunia ini walaupun diakhirat lebih enak. Jika ditinjau dengan
pendekatan psikologi , budaya dan historis lahirnya ayat itu, maka pendapat
beliau bisa diterima, beliau menyatakan ayat ini lahir atau turun di Arab, yang
mana di dataran tanah Arab itu sangatlah gersang dan jarang sekali pohon-pohon
yang tumbuh dan tidak adanya sungai yang mengalir, maka dari itu Allah
menggambarkan surga itu dengan sebuah perkebunan yang rindang terdapat
buah-buahan yang enak ditambah sungai-sungai yang mengalir didalamnya. Hal ini
supaya teks al-Qur'an itu pas dengan bangsa itu, tetapi kalau di Indonesia itu
sudahlah sangat biasa dengan perkebunan dan sungai. Oleh karena itu beliau
berpendapat surga yang dijanjikan Allah tidaklah seperti yang digambarkan dalam
teks tetapi surga yang dijanjikan Allah lebih dari itu.
2). Al-Hadits
Sumber ke dua yang digunakan Mahmud Hijazi adalah
didasarkan pada hadits sebagaimana tugas seorang rasul adalah sebagai penjelas
dari risalah yang dibawanya. Contoh pada surat al-Baqarah ayat 8 yang bertema
tentang orang-orang munafik dan sifat-sifatnya, Mahmud Hijazi menafsirkannya
dengan mengambil hadits-hadits yang berbicara tentang sifat-sifat orang
munafik.
Dalam ayat tersebut
dijelaskan bahwa di antara manusia ada yang beriman kepada Allah dan hari akhir
secara lisan saja, padahal hatinya dipenuhi dengan rasa kufur dan aniaya, oleh
karena itu Allah menolak segala pengakuan mereka sebab mereka tidak beriman
meskipun mereka mengaku beriman. Tidak diragukan lagi bahwa mereka menampakan
keimanan dan menyembunyikan kekufuran dalam bentuk tipu daya, dan mereka
termasuk orang-orang yang munafik.
3). Riwayat
Sahabat
Selain al-Quran dan
hadits yang dijadikan sumber penafsiran, Mahmud Hijazi pun menggunakan riwayat
para sahabat untuk menafsirkan ayat-ayat al-Quran. Hal ini disebabkan mereka
(sahabat) adalah orang-orang yang hatinya terbebas dari nifak, luas
pengetahuannya, adil dalam sifat dan sikap serta pemahamannya terhadap ajaran
yang dibawa nabi sangat mendekati kebenaran karena mereka hidup semasa dengan
nabi. Hal ini senada dengan ucapan nabi bahwa orang-orang yang paling baik
pemahamannya terhadap al-Quran adalah orang-orang yang sezaman dengan nabi.
4). Ijtihad
Yang terakhir cara yang
ditempuh oleh Mahmud Hijazi untuk menafsirkan al-Quran selain dengan ke tiga
sumber di atas adalah dengan menggunakan ijtihad. Tentunya dalam hal ini Mahmud
Hijazi menggunakan akal yang sehat dengan kaidah-kaidah yang telah ditetapkan
untuk menafsirkan al-Quran, tidak mengikuti hawa nafsu menafsirkan al-Quran
sesuai dengan kebutuhan dan kehendaknya.
d.
Sistematika Penulisan
Kitab tafsir ini terdiri dari 10 juz, setiap mengawali
penafsirannya Mahmud Hijazi menulis nama surat dalam al-Quran, menerangkan
Makiyah dan Madaniyah serta menerangkan secara global kandungan surat. Contoh
surat al-Anfal termasuk dalam kelompok surat Madaniyah, surat tersebut
menceritakan tentang harta rampasan perang, kemudian mengelompokan ayat secara
berurutan yang dipandang berhubungan satu sama lain dalam tema-tema kecil.
secara deskriptif dan langkah-langkah yang digunakannya adalah sebagai berikut:
a.
Menjelaskan arti dari nama surat dan konten
dan pokok-pokok apa saja yang ada didalamnya. Contoh: Surat al-Ikhlash
dinamakan Surat al-Ikhlash karena termasuk surat tauhid dan pensucian nama
Allah Ta’ala. Ia merupakan prinsip pertama dan pilar utama Islam. Oleh karena
itu pahala membaca surat ini disejajarkan dengan sepertiga Al-Qur’an. Karena
ada tiga prinsip umum: tauhid, penerapan hudud dan perbuatan hamba, serta
disebutkan dahsyatnya hari kiamat. Ini tidaklah mengherankan bagi orang yang
diberi karunia untuk membacanya dengan tadabbur dan pemahaman, sampai pahalanya
disamakan dengan orang membaca sepertiga Al-Qur’an.[4]
b.
Penjelasan kosa kata (Syarhu al-Mufradat)
yang terdapat dalam ayat yang dirasa sulit menurut ukurannya. Dengan demikian
tidak dijelaskan seluruh kosakata yang ada tetapi sebagiannya saja yang
dianggap sulit. Contoh kata Ahad pada Surat al-Ikhlash diartikan
sebagai: satu dalam DzatNya, SifatNya dan Af’alNya.
c.
Penjelasan (al-Idhah), pada langkah ini,
beliau memberikan penjelasan yang luas dengan dibarengi asbab an-Nuzul jika
ada. Terkadang beliau menjelaskan tafsir ayat dengan ayat lain dan bahkan
penjelasan para ulama terdahulu yang dianggapnya baik atau shahih. Contoh pada
surat al-Baqarah ayat 26-27 setelah memberikan penjelasan yang panjang lebar
beliau menyebutkan sebab turunnya ayat tersebut yaitu dengan menyebut riwayat,
dengan kata Ruwiya: yaitu ayat tersebut turun karena orang kafir
menertawakan pemisalan dalam al-Qur’an yang berupa laba-laba.[5]
Beliau juga menjelaskan ayat satu dengan ayat lain seperti surat al-Ra’du ayat
35, beliau menjelaskan dengan surat Muhammad ayat 15.
d.
Pada langkah terakhir biasanya beliau
memberikan penjelasan pada surat yang dianggap penting atau yang bersangkutan
dengan ilmu tafsir seperti apa macam surat ini Makkiyah atau madaniyyah. Contoh
seperti surat al-Ikhlash di atas disebutkan bahwa syrat tersebut termasuk surat
Makkiyah.
2.
Corak Penafsiran
Biasanya corak penafsiran selelu
dikaitkan dengan tsaqofah mufasirnya, namun tidak mesti demikian karena banyak
kitab-kitab tafsir yang coraknya tidak sesuai dengan tsaqofah mufasirnya. Jika
melihar tsaqofah mufasirnya diketahui bahwa Mahmud Hijazi adalah seorang yang
mahir dalam kaidah bahasa Arab, akan tetapi dalam menyusun tafsir ini beliau
lebih cenderung dengan corak adabul ijtima’i.
3.
Metode Penafsiran
Metode tafsir al-Quran secara definitif adalah
seperangkat kaidah atau aturan yang digunakan dalam menafsirkan al-Quran. Dalam
disertasinya yang berjudul “al-Wihdah al-Maudhuiyyah” Mahmud Hijazi
menjelaskan langkah-langkah yang dilakukan dalam menafsirkan ayat-ayat al-Quran
yaitu:
a.
Mengelompokan ayat-ayat yang memiliki tema
yang sama
b.
Menyusun ayat-ayat tersebut sesuai dengan
sebab turunnya
c.
Membahas ayat tersebut pada surahnya serta
menjelaskan kaitannya dengan ayat sebelum dan sesudahnya.
d.
Membahas rangkaian tema yang sama tersebut
yang terdapat pada surat lain sehingga sampai pada tujuan pembacanya.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa tafsir
al-Wadhih cenderung menggunakan metode “maudhu’i” yaitu
mengklasifikasikan ayat-ayat dalam satu surat dengan memberikan tema sentral,
mencantumkan sebab nuzul dan melakukan munasabah ayat.
C.
Tafsir Surah An-nisa’ ayat 1-20
1.
Identitas
Surah
a.
Nama : Surah An-nisa’
b.
Kelompok Surah : Madaniyyah
c.
Jumlah ayat : 176 ayat
2.
Teks ayat dan mufradat
يا
أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ واحِدَةٍ
وَخَلَقَ مِنْها زَوْجَها وَبَثَّ مِنْهُما رِجالاً كَثِيراً وَنِساءً وَاتَّقُوا
اللَّهَ الَّذِي تَسائَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحامَ إِنَّ اللَّهَ كانَ عَلَيْكُمْ
رَقِيباً (1)
المفردات :
النَّاسُ : هم الجنس البشرى ، وهو الحيوان الناطق المنتصب القامة الذي يطلق عليه الإنسان. وَبَثَّ : نشر. تَسائَلُونَ بِهِ : يسأل بعضكم بعضا بأن يقول :
سألتك باللّه أن تفعل كذا. وَالْأَرْحامَ : جمع رحم ، وهي القرابة من جهة الأب أو الأم. رَقِيباً : مشرفا ، والمراد : محافظا.
افتتح اللّه هذه السورة الكريمة بتذكير الناس بأنهم من أصل واحد كلهم لآدم وآدم من تراب ، وذكر الرحم والقرابة ليكون هذا كبراعة استهلال لما في السورة من أحكام
التفسير الواضح ، ج 1 ، ص : 332
المحافظة على أموال الضعاف وأحكام النكاح والإرث ، وكأن هذه الأحكام لازمة للناس من حيث كونهم ناسا ولذا بدأها بقوله : يا أيها الناس ، وإن تكن السورة مدنية.
المعنى :
يا أيها الناس خذوا لأنفسكم الوقاية ، واتقوا اللّه الذي رباكم بنعمه ، وتفضل عليكم بإحسانه ومننه ، فهو الذي خلقكم من جنس واحد وحقيقة واحدة هي آدم - عليه السلام - وإذا كنا جميعا أبناء لأب واحد ، فلا يصح أن نتعدى حدود اللّه خاصة حدود القربى والرحم الإنسانية.
وقيل : هذه النفس لم تبدأ بآدم بل بأوادم قبله ، فليس آدم أبا البشر جميعا ... واللّه أعلم بهذا كله ، والخطب يسير ، والقرآن أبهم النفس ولم يعرفها فهي تحتمل هذه المعاني وأكثر منها.
فإذا ثبت علميا أن آدم أبو البشر أو ليس آدم أبا البشر لم يتعارض ذلك مع القرآن كما تتعارض التوراة وغيرها.
على أن الرأى الأول هو الأحسن والذي يتلاءم مع كثير من الأحاديث الصحيحة ، والمعنى المراد أنه خلقكم من نفس واحدة أنشأها من تراب وخلق منها زوجها ، قيل :
من ضلع لآدم كما
المفردات :
النَّاسُ : هم الجنس البشرى ، وهو الحيوان الناطق المنتصب القامة الذي يطلق عليه الإنسان. وَبَثَّ : نشر. تَسائَلُونَ بِهِ : يسأل بعضكم بعضا بأن يقول :
سألتك باللّه أن تفعل كذا. وَالْأَرْحامَ : جمع رحم ، وهي القرابة من جهة الأب أو الأم. رَقِيباً : مشرفا ، والمراد : محافظا.
افتتح اللّه هذه السورة الكريمة بتذكير الناس بأنهم من أصل واحد كلهم لآدم وآدم من تراب ، وذكر الرحم والقرابة ليكون هذا كبراعة استهلال لما في السورة من أحكام
التفسير الواضح ، ج 1 ، ص : 332
المحافظة على أموال الضعاف وأحكام النكاح والإرث ، وكأن هذه الأحكام لازمة للناس من حيث كونهم ناسا ولذا بدأها بقوله : يا أيها الناس ، وإن تكن السورة مدنية.
المعنى :
يا أيها الناس خذوا لأنفسكم الوقاية ، واتقوا اللّه الذي رباكم بنعمه ، وتفضل عليكم بإحسانه ومننه ، فهو الذي خلقكم من جنس واحد وحقيقة واحدة هي آدم - عليه السلام - وإذا كنا جميعا أبناء لأب واحد ، فلا يصح أن نتعدى حدود اللّه خاصة حدود القربى والرحم الإنسانية.
وقيل : هذه النفس لم تبدأ بآدم بل بأوادم قبله ، فليس آدم أبا البشر جميعا ... واللّه أعلم بهذا كله ، والخطب يسير ، والقرآن أبهم النفس ولم يعرفها فهي تحتمل هذه المعاني وأكثر منها.
فإذا ثبت علميا أن آدم أبو البشر أو ليس آدم أبا البشر لم يتعارض ذلك مع القرآن كما تتعارض التوراة وغيرها.
على أن الرأى الأول هو الأحسن والذي يتلاءم مع كثير من الأحاديث الصحيحة ، والمعنى المراد أنه خلقكم من نفس واحدة أنشأها من تراب وخلق منها زوجها ، قيل :
من ضلع لآدم كما
في
الحديث « إن المرأة خلقت من ضلع أعوج ، فإن ذهبت تقيمها كسرتها ، وإن تركتها وفيها
عوج استمتعت بها » .
وعند بعض العلماء أن المراد أنه خلق من جنسها زوجها فهما من جنس واحد وطبيعة واحدة واستدل على ذلك بقوله - تعالى - : وَمِنْ آياتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْواجاً لِتَسْكُنُوا إِلَيْها [الروم 21] وقال في سورة أخرى : هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا من أنفسهم [الجمعة 2] فالمراد في الآيات من النفس واحد وهو الجنس ونشر وفرق من آدم وحواء نوعي البشر : الذكور والإناث ، فقد خلق آدم من تراب ، وخلقت حواء منه ، ومنها خلقت الذكور والإناث التي تفرع منهما الإنسان الذي سكن الأرض ، وهذا تفصيل لما أجمل في قوله - تعالى - : خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ واحِدَةٍ [سورة الزمر آية 6].
التفسير الواضح ، ج 1 ، ص : 333
و اتقوا اللّه الذي تساءلونه به فيقول الواحد منكم لأخيه : أسألك باللّه أن تفعل كذا ، والمعنى : أسألك بإيمانك به وتعظيمك له.
واتقوا الرحم ، أى : وصلوا الأرحام بالمودة والإحسان ولا تقطعوها ، وكرر الأمر بالتقوى للمبالغة والتأكيد ، وفي الأولى ذكر لفظ (الرب) الذي هو علم العطف والتربية في حالة الضعف والحاجة ، وفي الثانية لفظ (اللّه) إذ هو علم المهابة والجلالة ليكون أدعى للإجابة وقبول الأمر ، ثم ختم الآية بقوله : إِنَّ اللَّهَ كانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً مشيرا إلى أنه لا يشرع لنا إلا ما به حفظنا ومصلحتنا ، وهو الخبير بنا البصير بأحوالنا.
ما هي النفس والروح ؟ : مما لا شك فيه أن في الإنسان ناحية مادية وناحية مبهمة محجوبة بها العقل والحفظ والتذكر ، وهذه الأمور آثارها محسوسة بلا شك ، وليست من صفات الجسد ، فما منشئوها ؟ قال الأقدمون عنها : إنها النفس والروح ، وهل هي جسم نوراني علوي منفصل عن الجسم متصل به في حال الحياة ؟ أو هي حالة تعرض للجسم ما دام حيا وليست جسما ؟ ! رأيان.
وعند بعض العلماء أن المراد أنه خلق من جنسها زوجها فهما من جنس واحد وطبيعة واحدة واستدل على ذلك بقوله - تعالى - : وَمِنْ آياتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْواجاً لِتَسْكُنُوا إِلَيْها [الروم 21] وقال في سورة أخرى : هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا من أنفسهم [الجمعة 2] فالمراد في الآيات من النفس واحد وهو الجنس ونشر وفرق من آدم وحواء نوعي البشر : الذكور والإناث ، فقد خلق آدم من تراب ، وخلقت حواء منه ، ومنها خلقت الذكور والإناث التي تفرع منهما الإنسان الذي سكن الأرض ، وهذا تفصيل لما أجمل في قوله - تعالى - : خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ واحِدَةٍ [سورة الزمر آية 6].
التفسير الواضح ، ج 1 ، ص : 333
و اتقوا اللّه الذي تساءلونه به فيقول الواحد منكم لأخيه : أسألك باللّه أن تفعل كذا ، والمعنى : أسألك بإيمانك به وتعظيمك له.
واتقوا الرحم ، أى : وصلوا الأرحام بالمودة والإحسان ولا تقطعوها ، وكرر الأمر بالتقوى للمبالغة والتأكيد ، وفي الأولى ذكر لفظ (الرب) الذي هو علم العطف والتربية في حالة الضعف والحاجة ، وفي الثانية لفظ (اللّه) إذ هو علم المهابة والجلالة ليكون أدعى للإجابة وقبول الأمر ، ثم ختم الآية بقوله : إِنَّ اللَّهَ كانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً مشيرا إلى أنه لا يشرع لنا إلا ما به حفظنا ومصلحتنا ، وهو الخبير بنا البصير بأحوالنا.
ما هي النفس والروح ؟ : مما لا شك فيه أن في الإنسان ناحية مادية وناحية مبهمة محجوبة بها العقل والحفظ والتذكر ، وهذه الأمور آثارها محسوسة بلا شك ، وليست من صفات الجسد ، فما منشئوها ؟ قال الأقدمون عنها : إنها النفس والروح ، وهل هي جسم نوراني علوي منفصل عن الجسم متصل به في حال الحياة ؟ أو هي حالة تعرض للجسم ما دام حيا وليست جسما ؟ ! رأيان.
اليتامى
ومعاملتهم في أموالهم [سورة النساء (4) : آية 2]
وَآتُوا الْيَتامى أَمْوالَهُمْ وَلا تَتَبَدَّلُوا الْخَبِيثَ بِالطَّيِّبِ وَلا تَأْكُلُوا أَمْوالَهُمْ إِلى أَمْوالِكُمْ إِنَّهُ كانَ حُوباً كَبِيراً (2)
الالمفردات :
الْيَتامى : جمع يتيم : وهو من فقد أباه ، وخص الفقهاء اليتم بما دون البلوغ.
وَ لا تَتَبَدَّلُوا : تأخذوه بدله ، فالباء داخلة على المتروك. الْخَبِيثَ : الرديء ، مأخوذ من خبث الحديد ، والمراد منه : الحرام بِالطَّيِّبِ : الحسن ، والمراد :
الحلال. حُوباً : إثما وذنبا كبيرا.
التفسير الواضح ، ج 1 ، ص : 334
شروع في بيان نواحي التقوى وجهتها ، وأولها المحافظة على مال الضعاف من اليتامى والنساء والسفهاء ، حيث ذكرنا اللّه بالرحم والقربى.
المعنى :
يا أيها الأوصياء في مال اليتامى : أنفقوا عليه من ماله ، واجعلوا ماله خاصا به لا تأكلوا منه شيئا حتى تسلموه إليه بعد البلوغ كاملا غير منقوص ، ولا تتمتعوا بمال اليتيم في موضع يجب أن تتمتعوا فيه بمالكم فإنكم إن أخذتم من ماله وتركتم مالكم تكونوا قد استبدلتم الخبيث بدل الطيب ، والحرام بدل الحلال ، وهذا منهى عنه شرعا.
روى أنهم كانوا يضعون الشاة الهزيلة ويأخذون بدلها شاة سمينة ، فجاء النهى عن ذلك ، ولا تأكلوا أموالهم مضمومة إلى أموالكم ، ومن كان فقيرا فليأكل بالمعروف.
ومن كان غنيا فليكن عفيفا عن مال اليتيم ، إن أكل مال اليتيم بغير حق ذنب كبير وإثم عظيم ، فأقلعوا عنه أيها الناس ، واتقوا اللّه الذي خلقكم من نفس واحدة.
تعدد الزوجات والعدل معهن [سورة النساء (4) : الآيات 3 الى 4]
وَآتُوا الْيَتامى أَمْوالَهُمْ وَلا تَتَبَدَّلُوا الْخَبِيثَ بِالطَّيِّبِ وَلا تَأْكُلُوا أَمْوالَهُمْ إِلى أَمْوالِكُمْ إِنَّهُ كانَ حُوباً كَبِيراً (2)
الالمفردات :
الْيَتامى : جمع يتيم : وهو من فقد أباه ، وخص الفقهاء اليتم بما دون البلوغ.
وَ لا تَتَبَدَّلُوا : تأخذوه بدله ، فالباء داخلة على المتروك. الْخَبِيثَ : الرديء ، مأخوذ من خبث الحديد ، والمراد منه : الحرام بِالطَّيِّبِ : الحسن ، والمراد :
الحلال. حُوباً : إثما وذنبا كبيرا.
التفسير الواضح ، ج 1 ، ص : 334
شروع في بيان نواحي التقوى وجهتها ، وأولها المحافظة على مال الضعاف من اليتامى والنساء والسفهاء ، حيث ذكرنا اللّه بالرحم والقربى.
المعنى :
يا أيها الأوصياء في مال اليتامى : أنفقوا عليه من ماله ، واجعلوا ماله خاصا به لا تأكلوا منه شيئا حتى تسلموه إليه بعد البلوغ كاملا غير منقوص ، ولا تتمتعوا بمال اليتيم في موضع يجب أن تتمتعوا فيه بمالكم فإنكم إن أخذتم من ماله وتركتم مالكم تكونوا قد استبدلتم الخبيث بدل الطيب ، والحرام بدل الحلال ، وهذا منهى عنه شرعا.
روى أنهم كانوا يضعون الشاة الهزيلة ويأخذون بدلها شاة سمينة ، فجاء النهى عن ذلك ، ولا تأكلوا أموالهم مضمومة إلى أموالكم ، ومن كان فقيرا فليأكل بالمعروف.
ومن كان غنيا فليكن عفيفا عن مال اليتيم ، إن أكل مال اليتيم بغير حق ذنب كبير وإثم عظيم ، فأقلعوا عنه أيها الناس ، واتقوا اللّه الذي خلقكم من نفس واحدة.
تعدد الزوجات والعدل معهن [سورة النساء (4) : الآيات 3 الى 4]
DAFTAR PUSTAKA
[1] Abdurrahman Mahmud, Manhaj
al-Mufasirin, Kairo, Dar al-Kutub 1979, hal. 377
[2] Ibid, hal. 377-378
[3]Muhammad Mahmud
Hijazy, Al-Tafsir al-Wadhih Jilid 1 (Bairut : Darul-Jail, tt), hal. 5
[4] Muhammad Mahmud Hijazy, Al-Tafsir
al-Wadhih Jilid 9 (Bairut : Darul-Jail, tt), hal. 129
[5] Muhammad Mahmud Hijazy, Al-Tafsir
al-Wadhih Jilid 1 (Bairut : Darul-Jail, tt), hal. 17